
Wednesday, March 25, 2009
Aku nggak tahu bagaimana bisa kami berlima jadi satu kesatuan kayak gini,,. Awalnya, aku mengenal Iir saat ada bimbel SPMB di SSC. Perkenalan kami begitu singkat dan aku tidak menyangka kalau kami bias bertemu lagi di jurusan gizi Brawijaya ini. Nah, si Iir ini punya temen yang berasal dari daerah yang sama yaitu Dita. Eh, ternyata si Dita juga masuk jurusan ini, jadilah aku menenal Dita. Lalu ada lagi dua sekawan dari SMA yang sama yaitu Bunga dan Ratih. Nggak tahu gimana ceritanya, akhirnya kami selalu duduk bersama di barisan belakang kelas (almost everyday kami selalu dapet tempat duduk di belakang). Pernah sih,, di depan,, tapi sekalinya “depan” malah barisan paliiiiiing depan. BUSET DAH!
Nah, dari sini, dengan serta merta si Bunga-Banana menamai folder yang isinya foto kami di komputernya (baca: laptopnya) dengan: Fantastic 5. Buatku, nama itu sedikit aneh, I don’t know why. Makanya setiap kali aku nulis di blogku, aku selalu nulis dengan sebutan “Fantastic 5 (bukan nama sebenarnya)”. Well, anyway, the “Fantastic 5 (bukan nama sebenarnya)”, nama yang bagus kan!!
Uda tau kan siapa anggotanya!!!! Yup
Widing peach, sapa hayo!!! Its me widi
Sailorboon, boon = bunga
Avarat, rat ratih
Iiiryasha, kayaknya yang satu ini paling jelas n paling gokil. That’s it! Iir
Samurai D, D is for Dita
Lucu kan nama-namanya,,, ya kan, ya si, ya dong!!!
Bakal bisa tidur lebih nyenyak nih aku dengan memori ini,- gyahahaha
Saturday, March 21, 2009
KAPUR PUTIH DAN PENGHAPUS PAPAN
Dituliskannya kalimat-kalimat perpisahan satu demi satu, kemudian ia masukkan ke dalam amplop kecil yang dibuatnya sendiri. Untuk kedua kalinya ia harus mengucapkan kalimat perpisahan di depan teman-teman sekelasnya.
Reza, itulah panggilan akrabnya. Jika di negara ini, maka orang-orang kerap menambahkan “san” di belakang namanya. Ya, Jepang, sebuah negara dimana ia menghabiskan satu tahun hidupnya dengan menjadi siswi pertukaran pelajar. Hari ini, 3 Februari 2006 adalah hari perpisahan. Besok, pesawat akan akan membawanya kembali ke Indonesia menemuai keluarga tercintanya. Pidato perpisahan pertama dilakukannya di depan teman-teman SMA-nya, salah satu sma negeri di kota Solo, kota yang indah, sejuk, dan tenang. Keberadaannya di sekolah ini tidak terlalu menonjol, hanya saja ia masuk kelas unggulan. Saat itu, Reza seperti orang bingung, pidato perpisahan, bukan kalimat-kalimat perpisahan yang terlontar, malah ia bercerita tentang seperti apa sekolah yang ditujunya di Jepang nanti. Maklum, program perukaran pelajar ini hanya satu tahun. Saat itu ia kelas 2 (setara dengan kelas 11). Jadi, saat ia pulang nanti, teman-temannya akan telah duduk di kelas 3 (setara dengan kelas 12). Namun, di pidato perpisahan kedua ini, ia benar-benar harus berpisah dengan teman-teman yang berbeda budaya dan adat-istiadat. Air mata berlinang deras mengenang masa-masa indah yang yang telah dilalui bersama mereka. Kalimat perpisahan yang membuat hati pilu harus ia lontarkan dengan terisak-isak. “Terima kasih teman atas segala kenangan indah yang telah kita buat bersama, terima kasih banyak” Kemudian bergantian satu per satu dipeluknya teman-teman yang belum tentu suatu saat nanti bisa ia temui lagi. “Besok adalah hariku untuk pulang meninggalkan semua yang ada di sini dan aku akan melanjutkan hidupku di Indonesia” kenangnya. Hari ini begitu berat dan menguras emosiku. Aku lelah dan ingin tidur…..
---***---
8 Maret 2006, hariku kembali ke sekolah. Sesampai di sekolah, ia menemui kepala sekolah dan wakilnya. Sembari bercerita, wakil kepala sekolah memilihkan kelas baru untuknya. 12 IA (baca IPA) 2, itulah kelas barunya. Dengan semangat, ia menuju kelas dan memperkenalkan diri kepada teman-teman barunya. Hari ini semua berjalan lancar sampai suatu hari keadaan terasa aneh. Lama-lama, ia tak mampu menutupi logat Jepang yang masih terbawa, beberapa teman sekelas menertawakannya tiap kali ia bicara. Salah satu diantara mereka adalah Ilham.
24 Juni 2006 (hari pengumuman kelas baru). Hari ini, kami telah naik ke kelas 12 dan menempati kelas baru yang telah diacak dari kelas sebelumya.
“Oh, tidak…. Aku sekelas lagi dengan Ilham!!!” keluhnya. Ia meneruskan mengurut dengan telunjuknya dari atas ke bawah nama-nama yang sekelas dengannya. “Tapi untunglah, diantara teman-teman yang menertawakan logat bicaraku, hanya Ilham seorang yang akan sekelas denganku, paling tidak aku bisa sedikit lega.” Gumamnya dalam hati.
Kelas 12, bagiku adalah kelas yang serius, aku harus tekun belajar supaya lulus ujian akhir. Kurasa Ilham seorang tidak akan bisa mengalahkanku untuk terus belajar dan keluar dari SMA ini dengan nilai baik. Benar saja, semua seolah berjalan begitu lancar dan tenang., tak ada lagi tertawaan-tertawaan itu, tertawaan-tertawan yang membuat telingaku risih dan ingin marah. Tapi… “kok dia ngeliatin aku terus ya?? Ah, mungkin cuma perasaanku aja. “ gumamnya sambil terus mengerjakan soal-soal latihan menghadapi UAN yang diberikan Pak Edi, guru matematika yang gaul.
Pelajaran bahasa Indonesia, tiba giliranku maju mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Kusambar kapur putih dan penghapus papan. “Ya Tuhan, soal ini susah sekali…’ gumamku dalam hati. Aku terus berpikir dan menulis buah pikiranku dengan kapur di tangan kananku. Kuhapus, kutulis lagi, kuhapus, kutulis lagi, sampai akhirnya aku menyerah. Bu Alia yang tampaknya tahu bahwa aku sudah menyerah, sontak memanggil Ilham untuk membantuku menjawab soal itu. Oh Tuhan.. dia mendekatiku, mengambil kapur di tangan kananku dan penghapus di tangan kiriku. “dug dug, dug dug, dug dug, jantungku berdetak kencang dalam ketidak berdayaanku. Aku kembali duduk dan ia berhasil mengerjakan soal itu dengan benar.
Sejak saat itu, aku tahu ia telah berubah. Ia tak lagi menertawaiku. Ia tak lagi menyebalkan seperti dulu. Hari terus berlalu, ia terus berusaha mendekatiku dan aku selalu salah tingkah jika berada di dekatnya.
“Ilham sakit!” kata itu begitu jelas terdengar di telingaku. Setelah kucari tahu, ternyata ia sakit cacar air. Perasaan sedih dan doa semoga ia cepat sembuh kupanjatkan kepada Tuhan. Esoknya, setelah ia kembali masuk sekolah, aku senang sekali dan bersyukur ia telah sembuh.
“Apakah ini cinta?” Tanyaku dalam hati. “Tapi aku lebih tua darinya.” gumamku lagi. Hatiku terus bergelut mengatakan untuk tidak jatuh cinta padanya, dia lebih muda dariku, apa kata orang nanti?
Waktu terus berlalu, dua bulan lagi kami akan menempuh ujian kelulusan. “Hatiku sangat lelah, tubuhku pun demikian, tapi aku harus terus maju.” Gumamku. Karena kelelahan, aku terjatuh dari sepeda motor saat pulang latihan renang untuk ujian Ebta praktek. Saat itu perasaanku campur aduk.
Hari-H UAN. Pagi, pukul 07.00 kami sekelas termasuk Ilham berdoa bersama semoga dilancarkan mengerjakan ujian. Tubuhku yang masih lemah akibat kecelakaan itu tak mampu lagi menyembunyikan kegelisahan dan kerisauan dalam hatiku.
Ia terus saja memandangiku saat berdoa. “Tuhan… aku tak bisa,aku tak bisa menerimanya untuk saat ini.’ Teriakku dalam hati.
Aku lulus dan nilaiku cukup baik dan aku sangat puas. Nilainya lebih tinggi dariku dan aku tahu itu karena dia memang cerdas dan pintar. Kini kami kuliah di kota yang berbeda, aku di Solo dan ia di Jakarta.
...fin
Friday, March 20, 2009
new blog
gimana gimana
iir lagi ngerjain tugas intermonev clinic tapi keliatane uda selese
aku disini sambil ngedengerin radio nulis. wah gawat hpx mo diambil nih


