Tuesday, September 7, 2010

Nah, ini ni....

Nah, sekarang suda menunjukkan pukul 10. 44 dan mataku masi terbelalak terbuka lebar, belum ngantuk! efek tidur siang tadi kali y??
alrigh, let see what can I write for this moment

Tehere was a fieworks in tonight,s sky. that was sooo beautiful
hiihi

Tenggela dala masalah yang tak unjung pemecahannya
kata seorang filsuf Cina; jika kau menghadapi masalah yang tidak bisa kau selesaikan, berarti masalah itu sudah selesai
and taraaaaaaaa akulah pemenangnya

Alright
itulah kata2 yang bisa bikin aku sedikit berlega hati dengan keadaan sekarang ini
Sometimes kekhawatiran menggelayuti about future

but, it is more wise to decide to thank God for all the things and circmstances yang ada

Kesalahan yang kuperbuat tak akan ku ulangi lagi

Tuesday, August 3, 2010

list to do

hahaha
akhirnya menulis juga setelah sekian lama ga nulis.
Gara gara ga jadi ke kampus. Usaha buat mengolah data skripsi juga pupus untuk hari ini.
Facebook,,, ya itu itu aja
Kutulis lah sesuatu di blog ku
What I want to write is,,,
apa ya.. mau nulis daftar masalah,, kalo dipikiri emang ga akan pernah ada habisnya, bisa sepanjang nota belaanja d swalayan.,,,
lebih baik aku melist daftar apa yang akan kulakukan / kuusahakan dapat selesai
ikut krima
kkn
pippg
skripsi hrs rapung as soon as possible, ndang kompre selak awak e gag kuat

thats all

Saturday, June 19, 2010

cos we will nwever feel happy without forgiving

jadi ga tau mau nulis apa mala ini terasa very sepi n geting cold. sendirian ngerjain tugas ditmani music winamp , dan yang kusetel adalah alunan kecapi, petikan kecapi yang mendayu dayu tanpa ada suara penyanyi, jadi hanya background instrument saja. sambil menunggu hari esok, apakah yang akan trjadi
makin kesini makin sepi, makin sendirian,,,, hemmmm akan jadi depeti apa..... my life ke depan.
bersyukur telah melakukan yang terbaik yang aku bis mskipaun itu bukan the best and I never achieved the best so far, the thing is I did my vry best, from my body, my mind, and my soul. i dedicated everything to all the things that I think it's good, without care anyone else's opinion. I was just keep going on my ft. I kept runnin'whether somehow it felt a little bit hard. I , now feel like this is the turninh point. I don't kow what effot should I do next. I just live for no, for this second.
nagarete yuku jikan

Sunday, November 22, 2009

chapter 3

Hari pertama masuk sekolah…

Di luar sangat dingin… (tak kusangka), padahal kan musim semi… kata orang-orang musim semi hangat… Itulah yang kupikirkan ketika pertama kali masuk sekolah.
Tega sekali okaasan tidak mengantarkanku sampai sekolah. Aku harus naik kereta sendirian, tapi tidak sendirian karena ia mencarikanku teman untukku berangkat bersama-sama.(…. Waks). Akhirnya aku sampai juga di sekolah. Di sekeliling linkungan sekolah, pohon-pohon sakura sedang menggugurkan kelopak bunganya. Indah….. sekali (hehehe ngiming-iming), tertiup angin, indahnya…..
Aku memakai seragam sailor seperti yang di komik komik Jepang yang banyak beredar di Indonesia. Sumpah, aku tidak pernah suka membaca komik, entahlah memang sudah sifatku tidak suka membaca, kecuali buku pelajaran karena terpaksa, kalau tidak membaca pasti nilai sekolahku jelek. Intinya, membaca adalah hal yang paling kuhindari karena setiap hari membaca buku pelajaran di sekolah saja sudah membuatku pusing, belum lagi PR-PRnya. Seragamku ini berwarna hitam, seluruh murid di tempat ini juga memakai yang sama denganku.
Sekolah ini adalah sebuah publik school dengan murid seluruhnya perempuan. Hal ini biasa di Jepang, ada sekolah cewek, ada sekolah cowok, tapi ada juga sekolah cewek+cowok. Heummmmm… agak kecewa sih… kan pengetahuan jadi berkurang, kan aku pengen tau juga cowok Jepang itu kayak apa…. Anyway. Maybe that was the best for me, lagian aku gag bisa milih sendiri, sudah di luar kemampuan.
Oh My God… aku harus memperkenalkan diri di hadapan pertama: para guru di ruang guru, kedua: teman teman kelasku. And…. Aku memperkenalkan diri dalam kalau kuhitung lima kalimat yang sudah kuhafalkan terlebih dahulu, dan mereka pun memberiku applause.”Untuk apa mereka bertepuk tangan?” pikirku. (tentu saja aku berkenalan dalam bahasa Jepang).
Waktu berlalu, tak satupun kata-kata yang kumengerti dari pembicaraan orang-orang di sekitarku. Saat aku mengikuti pelajaran, bapak-ibu guru seperti berbicara bahasa planet, kucoba mendengarkan… dan tak mengerti sama sekali, sama sekali. Saat istirahat, teman-teman pun bercakap-cakap dan… kudengarkan, tak kumengerti. “Ya Tuhan… baru kusadari, apakah setiap hari ke depan akan seperti ini? Tak ada yang kumengerti.”gumamku. Sesampainya di rumah, langsung kuusahakan membuka kamus, Okaasan (ibu) dan Otosan(ayah) tidak bisa berbahasa Inggris! Wow!!!!!! Lalu aku harus bagaimana?????
Akhirnya, baik okaasan maupun otoosan pun mengeluarkan kamus Jepang-Inggris. Mereka membuka kamus, menunjuk kata yang mereka maksud dalam kamus itu, lalu menunjukannya kepadaku. Dari situlah aku mengerti apa yang mereka katakan. Aneh ya, jika kuingat-ingat saat ini…

….. Hari kedua masuk sekolah
Kali ini aku lebih bersiap-siap, malam sebelumnnya kupelajari lagi buku panduan bahasa Jepang yang diberikan AFS kepadaku, menghafalkan selamat pagi: ohayoo gozaimasu, terima kasih: arigatoo gozaimasu, permisi: sumimasen, dan segala hal yang sebanyak mungkin bisa kumasukkan ke otakku, tapi sementara ini hanya tiga kata itu yang bisa nyangkut ditambah cara berkenalan yang sudah kupraktekkan sebelumnya.
Apa yang akan terjadi? Tunggu cerita berikutnya…. Wakkakakkakka
……. To be continue

Wednesday, November 11, 2009

chapter 2

Keesokan harinya….
Pukul 09.25. Aku sedang berada di sebuah rung yang mirip seperti ruang kelas, ada LCD, ada papan tulis, dan di sebelahku adalah orang bule. Kali ini aku benar bnar dekat dan benar-benar berbincang-bincang seperti kami adlah teman. Benar saja, nasib kami sama. Sama-sama dari negeri asing yang akan menetap selama 1 tahun di Jepang.
Yang bisa kuingat adalah, ada kakak-kakak panitia AFS Jepang yang mencoba menjelaskan kepada kami yang berada di ruangan itu tentang perbedaan budaya Jepang, bagaimana harus melepas sepatu ketika memasuki rumah, membungkukkan badan ketika memberi salam, dan lain sebagainya. Kujamin, dari 100% yang mereka jabarkan 10 bahkan 5 % saja rasanya yang masuk di otakku. Kemudian kami diberi uang (uang Jepang pastinya) dan disuruh belanja di sebuah swlayan yang berada di gedung yang sama dan kamipun belanja dengan uang itu, beberapa makanan kecil. Kurasa mereka ingin mengajarkan kami bagaimana cara membelanjakan uang Jepang.
Hari-hari pun berlalu, berbagai kegiatan kulakukan, mulai dari mandi air panas yang sering disebut onsen, dan lain sebagainya. Setelah orientasi ini selesai, dibagilah kami menjadi beberapa kelompok. Sedih sekali keika ku tahu bahwa tak satupun dari keenam orang temanku yang dari Indonesia satu kelompok denganku. Akhirnya kutahu anggota kelompokku adalah Lauge dari Denmark, Hanna dari Finlandia, Melinda dari AS, dan Luke dari AS juga. Kamiadalh kelompok yang akan tinggal di provinsi yang sama yaitu Kita-Ibaraki.
Hari ini, aku, Hanna, dan teman-teman sekelompokku berangkat menggunakan bus dari tempat orientasi ini yang berada di Tokyo ke Kita-Ibaraki. Rasanya… sendirian lagi… tak ada lagi teman-temanku dengan bahasa yang sama yang bisa ku ajak berbagi rasa. Dunia pun terasa sunyi, yang ada hanyalah Lauge, Melinda, aku, Luke, dan Hanna. Hanna adalah seorang berkulit putih bersih, berambut pirang, dan bermata biru, benar-benar seperti boneka barbie yang sering kulihat di TV, tapi ia benar-benar pendiam, jika tak kuajak bicara maka ia akan diam. Jika kutanya, ia akan hanya menjawab dengan jawaban yang sangat singkat, seperti: yes, no. Sedangkan Melinda lebih banyak bicara, kamipun membicarakan Hanna, kenapa ia begitu diam. Luke pun lebih berbicara dan aku tidak terlalu dekat dengan Lauge.
Setelah turun dari bus, kami pun beralih ke kereta, sepertinya tempat tujuan kami sudah semakin dekat. Di stasiun ini, kami disambut oleh panitia AFS yang lain lagi, mereka memeluk kami dan kurasa itu sangat aneh, dari apa yang kutahu orang Jepang tidak terbiasa memeluk. But anyway, ia bernama Horikoshi san, wanita paruh baya yang menemani kami naik kereta.
Akhirnya aku sampai juga di stasiun kota dimana aku akan tinggal, di Isohara, sebuah kota kecil yang sepi di provinsi Kita-Ibaraki. Di tempat inilah aku pertama kali bertemu dengan host-mom ku (ibu). Host-momku yang nantinya kupanggil dengan sebutan Okaasan membawa kami (aku dan Horikoshi-san) ke rumahnya, rumah dimana tempatku tinggal dan hidup selama 1 tahun di Jepang. Sudah ada Otoosan (suami Okaasan) di rumah. Hari itu bukan hari libur, tapi Otoosan meliburkan diri dari pekerjaannya untuk menyambutku, menyambut kedatanganku.
Horikoshi san pun menjadi tranlator bagi kami (antara aku, Okaasan, dan Otoosan). Sungguh aku tak mengerti bahasa yang digunakan Okaasan, belum sempat berpikir, Horikoshi an sudah menjelaskan kepadaku dalam bahasa Inggris. Oke, aku mengerti. Ada beberapa hal yang harus kulakukan, seperti bangun minimal pukul 6 pagi lalu sarapan, pergi ke sekolah jam 7,dst. Intinya mereka mencoba menjelaskan alur kehidupan yang akan kujalani beserta jam jamnya. Kemudian, ditunjukkanlah di mana kamar mandi, kamar mandi yang terpisah dari toilet tempat BAB (ups sorry….), taman, dapur, kamar mandi, dan banyak hal yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Kali ini, dari 100% yang mereka coba jelaskan, I guess 2% saja yang bisa mauk ke dalam otakku, ou.. please.
Setelah Horikoshi san pulang, Okaasan mulai membawaku ke kamar yang letaknya dilantai 2. Kamarku bersebelahan dengan kamar Okaasan dan Otoosan, kemudian di depan kamar itu ada kamar putri mereka yang mereka bilang 1 tahun lebih tua dariku, tetapi sekarang belum ada di situ karena sedang mengikuti pertukaran pelajar juga di Amerika dan akan kembali pada bulan Juni (sekarang bulan Maret). Oke, aku mengerti. Okaasan mengajariku cara mengunakan kamar itu, ada lemari pakaian, tempat buku, dan ranjang. Kali ini, dari semua yang dijelaskan Okaasan hanya 0,5% saja yang masuk ke otakku. Ia berbicara dengan tempo yang cepat, dengan bahasa Jepang dan banyak hal pula yang ia jelaskan. Oh My God….
To be continue……

Sunday, November 8, 2009

chapter 1

Aku teringat ketika itu aku duduk di pesawat, memandang ke luar jendela, tanpa tahu apa yang akan terjadi. Yang kutahu hanyalah aku berada di pesawat ini dengan teman-temanku yang lain yang entah,, mungkin mereka sedang merasakan hal yang sama. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi ketika aku menginjak tanah negara itu. Yang kutahu aku disini terasa sendiri tanpa ada yang tahu apa yang kurasakan, ayah ibuku jauh berada di rumah dan yang kutahu, aku akan kembali bertemu mereka serelah 1 tahun lagi. Bagiku, 1 tahun terbayangkan waktu yang lama… “Kapan… aku akan berada di pesawat yang akan membawaku pulang kembali dan memeluk ayah ibuku seperti yang biasa kulakukan?” anganku.
Waktu terus berlalu, malam pun semakin larut, pesawat yang membawaku ke Tokyo ini pun terus melaju menghabiskan waktu perjalanannya. Aku, dengan hati yang bergelayut, akhirnya tertidur. Aku pun terus tertidur hingga sesuatu membangunkanku, entah apa itu. Kembali kulihat ke luar jendela. Betapa indahnya. Helaian awan yang dilalui pesawat ini tersinari warna matahari yang sedang terbit jauh di sana. Suasana gelap yang tadi kurasakan kini berganti terang. Tak kulewatkan suasana yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata ini. Kulihat temen-temanku pun telah terbangun dari tidurnya. Mereka pun melihat ke luar dan takjub akan kebesaran Tuhan.
Seorang pramugari menghampiri kami yang duduk berderet di line kursi pesawat yang sama dan menyajikan semangkuk makan pagi dan teh hangatnya. Segera kusantap dan kunikmati, enaknya…
Waktu menunjukkan pukul 09.25, akhirnya kami tiba di bandara Narita-Tokyo. Aku pun turun bersama teman yang lain, mengambil tas dan barang bawaanku.
Ketika aku keluar dari bandara untuk menuju dormitory tempat penampunganku sementara sebelum benar-benar ditempatkan di sebuah keluarga yang akan menampungku selama satu tahun ke depan, kurasakan hembusan angin yang berbeda, berbeda dari yang pernah kurasakan. Tak sempat aku mendefinisikan angin apa yang telah menerpa tubuhku, karena terasa sangat…. berbeda terpaannya, aku diminta untuk bergegas memasukkan barang bawaanku ke dalam bagasi bus.
Belum lagi aku beristirahat, seorang bule telah duduk di sampingku dan bus pun membawa kami semua ke lokasi dormitory.
Telah banyak lagi tugas yang menanti kami di dormitory itu. Belum belum, malam harinya aku sudah harus mengenakan pakaian tradisional yang kubawa dari rumah, itu pun bukan punyaku. Karena kebaikan guru tariku di SMA, beliau mau meminjamkan baju itu selama satu tahun kepadaku untuk kupakai ketika aku menarikan tarian tradisional Indonesia di berbagai acara. Aku senang ketika salah seorang volunteer AFS Jepang memuji pakaian yang kukenakan, dia bilang “kawaii….”. Meskipun aku tidak tahu artinya, tapi dari senyumnya aku bisa tahu bahwa kata itu bermaksud memuji.
Acara pun berlanjut, banyak sekali orang bule di ruangan ini, tapi jangan salah, yang berkulit hitam pun kusebut bule. Intinya, semua orang asing di ruangan ini kusebut “bule”. Mereka pun mengenakan pakaian tradisional negara masing-masing dan berbaur menjadi satu dalam kemeriahan pesta makan malam ini.
Seseorang menghampiriku, mengajak berfoto dan berbincang-bincang. You know what, amazingly I could speak English! Belum lagi aku sempat berpikir, seseorang yang lain lagi dari group yang berbeda menghampiriku dan mulai berbincang-bincang. Akhirnya, kutahu ia dari Malaysia, and once again, I caould speak English. Kulanjutkan menyapa orang yang lainnya, berkenalan, dan berbincang-bincang, begitu seterusnya.
Acara telah selesai, aku kembali ke kamarku, dalam perjalanan, setiap orang menyapa dan kubalas dengan senyuman dan sapaan juga. Belum lagi sempat berpikir apa yang telah terjadi, kutemukan badanku terasa sangat letih. Bergegas kurapikan pakaian tradisional yang tadi kupakai, menggosok gigi, lalu tidurlah aku di kamar yang sempit dan bersprei putih ini. Sempat aku berpikir, kenapa kamar ini sempit sekali, bersprei putih seperti di RS, dan sama sekali tak kutemukan hiasan apapun di dindingnya. Serasa hidup dalam botol. Namun, dengan keadaan tubuh yang letih bukan main seperti ini, ada kasur untuk tidur saja, aku sudah bersyukur.

….. to be continue

Tuesday, October 6, 2009

satunya, satunya lagi, satu satunya satunya satunya lagi

Think about the word “different”.interpretasinya bisa macem–macem, tergantung dari sudut mana ngelihatnya. Become a human, manusia itu satu dengan yang lainnya, kadang terlihat sama pada hal-hal tertentu. Manusia punya hati yang diciptakan-Nya, sama semuuuuuuuua manusia di muka bumi ini punya hati, kecuali yang emang didesain gag punya oleh-Nya. Taaaapi, kalo dilihat lebih lebih dan lebiiiiih dalam lagi, maka akan tampaklah perbedaan itu, perbedaan antar manusia satu dengan yang satu lagi dengan yang satunya lagi dan dengan yang satu satunya lagi…
Rasanya,,, kayaknya tuh tiap orangnya punya benih yang spesifik dan uniq yang gag bakal ditemuin di manusia satunya, satunya lagi, bahkan satu satunya satunya satunya lagi itu.. Ibaratnya taneman . taneman punya benihnya sendiri sendiri itu yang bikin kebun bunga jadi keliatan lebih rame dan lebih indah karna gag monoton hanya ada satu bunga , Di sini manusia punya hati, kalo kita lihat lebiiiiiiih dalem lagi pasti kita akan nemuin betaaaapa n betaaaapa baiknya dia, pemilik hati itu. Tiap orang punya alasan sendiri sendiri dari tiap tindakan yang dilakukannya. Dan itu pasti untuk kebaikan. Hanya saja kita yang baru mengenalnya tidak mengetahui kebaikan seperti apa, alasan yang melatar belakangi kebaikan itu, dan kemuliaan hati itu.
Sering kali, apa yang dilakukan orang lain tidak kita mengerti. Hanya tidak kita mengerti.Apakah itu sudah merupakan alasan yang cukup kuat untuk kita membencinya? Mungkin
Tapi apakah tidak terlalu kejam unjuk men-judge orang sedangkan mengerti saja kita tidak?

Inspired by: experiences in life