Wednesday, November 11, 2009

chapter 2

Keesokan harinya….
Pukul 09.25. Aku sedang berada di sebuah rung yang mirip seperti ruang kelas, ada LCD, ada papan tulis, dan di sebelahku adalah orang bule. Kali ini aku benar bnar dekat dan benar-benar berbincang-bincang seperti kami adlah teman. Benar saja, nasib kami sama. Sama-sama dari negeri asing yang akan menetap selama 1 tahun di Jepang.
Yang bisa kuingat adalah, ada kakak-kakak panitia AFS Jepang yang mencoba menjelaskan kepada kami yang berada di ruangan itu tentang perbedaan budaya Jepang, bagaimana harus melepas sepatu ketika memasuki rumah, membungkukkan badan ketika memberi salam, dan lain sebagainya. Kujamin, dari 100% yang mereka jabarkan 10 bahkan 5 % saja rasanya yang masuk di otakku. Kemudian kami diberi uang (uang Jepang pastinya) dan disuruh belanja di sebuah swlayan yang berada di gedung yang sama dan kamipun belanja dengan uang itu, beberapa makanan kecil. Kurasa mereka ingin mengajarkan kami bagaimana cara membelanjakan uang Jepang.
Hari-hari pun berlalu, berbagai kegiatan kulakukan, mulai dari mandi air panas yang sering disebut onsen, dan lain sebagainya. Setelah orientasi ini selesai, dibagilah kami menjadi beberapa kelompok. Sedih sekali keika ku tahu bahwa tak satupun dari keenam orang temanku yang dari Indonesia satu kelompok denganku. Akhirnya kutahu anggota kelompokku adalah Lauge dari Denmark, Hanna dari Finlandia, Melinda dari AS, dan Luke dari AS juga. Kamiadalh kelompok yang akan tinggal di provinsi yang sama yaitu Kita-Ibaraki.
Hari ini, aku, Hanna, dan teman-teman sekelompokku berangkat menggunakan bus dari tempat orientasi ini yang berada di Tokyo ke Kita-Ibaraki. Rasanya… sendirian lagi… tak ada lagi teman-temanku dengan bahasa yang sama yang bisa ku ajak berbagi rasa. Dunia pun terasa sunyi, yang ada hanyalah Lauge, Melinda, aku, Luke, dan Hanna. Hanna adalah seorang berkulit putih bersih, berambut pirang, dan bermata biru, benar-benar seperti boneka barbie yang sering kulihat di TV, tapi ia benar-benar pendiam, jika tak kuajak bicara maka ia akan diam. Jika kutanya, ia akan hanya menjawab dengan jawaban yang sangat singkat, seperti: yes, no. Sedangkan Melinda lebih banyak bicara, kamipun membicarakan Hanna, kenapa ia begitu diam. Luke pun lebih berbicara dan aku tidak terlalu dekat dengan Lauge.
Setelah turun dari bus, kami pun beralih ke kereta, sepertinya tempat tujuan kami sudah semakin dekat. Di stasiun ini, kami disambut oleh panitia AFS yang lain lagi, mereka memeluk kami dan kurasa itu sangat aneh, dari apa yang kutahu orang Jepang tidak terbiasa memeluk. But anyway, ia bernama Horikoshi san, wanita paruh baya yang menemani kami naik kereta.
Akhirnya aku sampai juga di stasiun kota dimana aku akan tinggal, di Isohara, sebuah kota kecil yang sepi di provinsi Kita-Ibaraki. Di tempat inilah aku pertama kali bertemu dengan host-mom ku (ibu). Host-momku yang nantinya kupanggil dengan sebutan Okaasan membawa kami (aku dan Horikoshi-san) ke rumahnya, rumah dimana tempatku tinggal dan hidup selama 1 tahun di Jepang. Sudah ada Otoosan (suami Okaasan) di rumah. Hari itu bukan hari libur, tapi Otoosan meliburkan diri dari pekerjaannya untuk menyambutku, menyambut kedatanganku.
Horikoshi san pun menjadi tranlator bagi kami (antara aku, Okaasan, dan Otoosan). Sungguh aku tak mengerti bahasa yang digunakan Okaasan, belum sempat berpikir, Horikoshi an sudah menjelaskan kepadaku dalam bahasa Inggris. Oke, aku mengerti. Ada beberapa hal yang harus kulakukan, seperti bangun minimal pukul 6 pagi lalu sarapan, pergi ke sekolah jam 7,dst. Intinya mereka mencoba menjelaskan alur kehidupan yang akan kujalani beserta jam jamnya. Kemudian, ditunjukkanlah di mana kamar mandi, kamar mandi yang terpisah dari toilet tempat BAB (ups sorry….), taman, dapur, kamar mandi, dan banyak hal yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Kali ini, dari 100% yang mereka coba jelaskan, I guess 2% saja yang bisa mauk ke dalam otakku, ou.. please.
Setelah Horikoshi san pulang, Okaasan mulai membawaku ke kamar yang letaknya dilantai 2. Kamarku bersebelahan dengan kamar Okaasan dan Otoosan, kemudian di depan kamar itu ada kamar putri mereka yang mereka bilang 1 tahun lebih tua dariku, tetapi sekarang belum ada di situ karena sedang mengikuti pertukaran pelajar juga di Amerika dan akan kembali pada bulan Juni (sekarang bulan Maret). Oke, aku mengerti. Okaasan mengajariku cara mengunakan kamar itu, ada lemari pakaian, tempat buku, dan ranjang. Kali ini, dari semua yang dijelaskan Okaasan hanya 0,5% saja yang masuk ke otakku. Ia berbicara dengan tempo yang cepat, dengan bahasa Jepang dan banyak hal pula yang ia jelaskan. Oh My God….
To be continue……

No comments:

Post a Comment

feel free!